BerandaKARIMUNSongket Khas Melayu Asal...

Songket Khas Melayu Asal Prayun Kundur Mulai Go Internasional, Tampil di Front Row Paris Prancis

Google search engine

KARIMUN, kabarkarimun.com – Kabar menggembirakan datang dari perajin songket khas Melayu asal Desa Prayun, Kecamatan Kundur Utara, Kabupaten Karimun.

Hasil tenunan kelompok Tujuh Laksana Desa Prayun mulai go internasional. Kali pertama tenun songket Tujuh Laksana ditampilkan di Front Row Fashion Show Paris 2022.

Adalah Indonesia Fashion Chamber (IFC) yang berkolaborasi dengan pemilik Prana Living Indina Putri memperkenalkan songket asal Desa Prayun tersebut.

“Bangga, dan merasa terhormat hasil tenun songket Tujuh Laksana dibawakan di Front Row Fashion Show Paris. Tentu ucapan terima kasih kami sampaikan untuk Indina Putri pemilik Prana Living,” ujar Ketua Pengrajin Songket Tujuh Laksana Sugianto Rusli menjawab kabarkarimun.com, Minggu (25/9/2022).

Sugianto pun mengaku sangat antusias bisa berkolaborasi bersama Indina Putri. Apalagi hasil tenun songket khas Melayu Kepulauan Riau dibawa go internasional.

Saran Berita  Persiapan sudah 90 %, Karimun Siap Gelar Turnamen GTX dan Motocross Se-Kepri

Sugianto pun menceritakan awal perkenalan dengan Indina Putri di iven Gebyar Melayu Pesisir.

“Itu kolaborasi pertama kami dengan beliau. Dimana kami menampilkan songket dengan motif Jong,” tutur Sugianto mengenang.

Songket yang ditenun oleh Tujuh Laksana merupakan kain songket khas Kepulauan Riau yang dihasilkan pengrajin di Desa Prayun, Kecamatan Kundur. Pembuatannya pun masih menggunakan alat tradisional.

“Hasil songket yang dibawa ke Front Row Paris merupakan songket dengan motif alam. Di antaranya Bunga Kundur, Bunga Bintang Pecah Delapan, dan Pucuk Rebung,” ungkapnya.

Tujuh Laksana merupakan kelompok tenun songket yang terus berusaha melestarikan budaya bertenun yang merupakan tradisi, dan warisan bangsa Melayu.

“Anggota Tujuh Laksana mayoritas ibu-ibu rumah tangga. Selain menjaga warisan budaya Melayu, kegiatan ini juga sebagai usaha yang dapat membantu perekomomian anggota,” tuturnya.

Saran Berita  Penyaluran BLT BBM di Moro lancar, Suryani: Belanjakanlah untuk Kebutuhan Prioritas

Saat ini kelompok tenuh Tujuh Laksana belum mampu memproduksi, dan mempromosikan kain songket secara luas. Keterbatasan alat tenun, dan jumlah penenun yang masih sangat sedikit menjadi kendalanya.

“Ke depan, kita perlu kembali melatih masyarakat yang berminat untuk menenun agar jumlah penenun semakin banyak. Dan produksi hasil tenunan songket pun semakin meningkat,” tutupnya.

Bupati Karimun Dr H Aunur Rafiq sangat mendorong pengembangan kerajinan tenun Melayu khas Karimun untuk bisa go internasional.

Mengingat tanah Melayu memang terkenal dengan berbagai kerajinan tangannya yang mampu menarik minat warga dunia.

“Kita tentunya mendorong dan mensupport kerajinan tenun Melayu khas Karimun bisa menembus pasar luar negeri,” ucap Aunur Rafiq saat meninjau pelatihan tenun songket melayu di Desa Prayun beberapa waktu lalu. (nku)

SARAN BERITA
Google search engine